Oleh: BAHARUDIN, MZ, SH
RajawaliNusantara | Setiap musim hujan datang, Padang seperti mempersiapkan dirinya untuk kembali terluka. Bukan karena kota ini lemah, tetapi karena terlalu sering dibiarkan menghadapi bencana sendirian. Banjir yang datang bukan sekadar genangan air—ia adalah jejak sakit hati warga yang terus mengalir, berulang, dan seolah tidak pernah dianggap serius.
Ketakutan yang Selalu Datang Bersama Awan Gelap
Bagi banyak warga Padang, awan hitam bukan hanya tanda hujan, tetapi tanda bahaya. Sekali tetesan hujan berubah deras, orang tua mulai gelisah, anak-anak diminta bersiap, barang-barang disingkirkan ke tempat lebih tinggi, dan doa mulai dipanjatkan agar air tidak naik secepat tahun-tahun sebelumnya.
Apa yang harus dirasakan oleh seorang ibu ketika melihat air mulai merayap masuk ke ruang tamu? Apa yang harus dilakukan oleh seorang ayah yang berdiri di depan rumah, berusaha menutup arus air dengan papan, ember, atau apapun yang bisa dipakai—padahal semua itu tidak pernah cukup?
Ketakutan itu nyata. Berulang. Melelahkan.
Banjir yang Melumpuhkan Lebih dari Sekadar Jalanan
Banjir tidak hanya merendam jalan atau menggenangi pekarangan. Ia merendam kehidupan.
Ia merenggut waktu, merusak benda berharga, menghentikan aktivitas, dan membuat masyarakat kehilangan rasa aman.
Anak-anak yang seharusnya belajar harus menunggu di pengungsian. Lansia yang seharusnya beristirahat harus dievakuasi dalam kondisi dingin dan basah. Para pekerja terpaksa absen, kehilangan penghasilan harian, sementara pedagang kecil meratapi barang dagangan yang rusak.
Dan di balik semua itu, ada rasa frustasi yang sulit diungkapkan. Sebab banjir ini bukan kejadian baru—tetapi pola yang terus berulang seperti catatan muram yang tidak pernah ditutup.
Ketika Alam Dipaksa, Ia Akan Mengambil Balik Haknya
Kita tidak bisa memungkiri bahwa alam memiliki batas. Sungai punya ruang yang harus dijaga. Tanah butuh menyerap air. Pepohonan memerlukan tempat berdiri. Namun selama ini, ruang-ruang itu perlahan diambil. Sungai dipersempit, drainase dibiarkan tersumbat, dataran rendah diisi beton tanpa perhitungan.
Apa yang terjadi di Padang bukan sekadar bencana. Ini adalah reaksi alam terhadap kota yang tidak lagi memberikan ruang bernapas.
Dan ketika ruang itu hilang, air akan mencari tempat lain—dan seringkali tempat itu adalah rumah kita sendiri.
Upaya Darurat Tidak Akan Pernah Cukup
Kita harus menghormati perjuangan para relawan, BPBD, TNI, Polri, dan warga yang bersama-sama berjuang setiap kali banjir melanda. Mereka bekerja dengan sepenuh hati—mengangkat anak-anak ke perahu karet, mengevakuasi lansia, mendirikan posko, memberikan selimut, makanan, dan obat-obatan.
Namun sampai kapan kita hanya mengandalkan mereka saat bencana terjadi?
Upaya darurat adalah penanganan luka, bukan pencegah luka.
Jika yang kita lakukan hanya bergerak ketika banjir datang, maka kita sebenarnya hanya menunggu bencana berikutnya tanpa menyentuh akar persoalan.
Padang Membutuhkan Keberanian untuk Berbenah
Padang tidak membutuhkan janji-janji baru. Padang membutuhkan keberanian:
-
Keberanian untuk membongkar bangunan yang berdiri di jalur air.
-
Keberanian untuk memperbaiki drainase secara menyeluruh, bukan tambal sulam.
-
Keberanian untuk memulihkan sungai dan kawasan hijau tanpa kompromi.
-
Keberanian untuk menindak pelanggaran tata ruang, betapapun sulitnya.
Tentu ini bukan tugas pemerintah semata. Masyarakat juga harus berubah. Kita harus berhenti membuang sampah sembarangan, berhenti membangun tanpa izin, dan berhenti menganggap bahwa banjir adalah sesuatu yang normal.
Kota Ini Punya Harapan, Asal Kita Mau Mengubahnya
Padang adalah kota yang kuat. Ia punya sejarah panjang, budaya yang kaya, dan masyarakat yang tidak mudah menyerah. Kota ini tidak layak untuk terus dikenang dengan berita banjir semata.
Setiap kali air surut, kita selalu melihat warga bergotong royong membersihkan rumah, mengangkat lumpur, menata ulang barang-barang. Ketahanan seperti itu adalah modal besar. Namun ketahanan itu tidak boleh disia-siakan dengan membiarkan bencana terus berulang.
Padang berhak mendapatkan masa depan yang lebih cerah.
Berhak menjadi kota yang tidak lagi dikuasai rasa takut ketika hujan turun.
Berhak menjadi kota yang aman untuk anak-anak bermain, bagi pedagang mencari nafkah, bagi warga menjalani hidup tanpa gangguan bencana.
Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan hanya terhindar dari banjir hari ini—tetapi memastikan bahwa generasi setelah kita tidak lagi mewarisi ketakutan yang sama.
Kini saatnya kita semua bergerak, agar suatu hari nanti, ketika hujan turun, warga tidak lagi takut… tetapi justru tersenyum karena tahu kota mereka sudah siap, aman, dan kuat. **
Penulis: Pemimpin Redaksi